By Daniel Christmas Matondang or @Me_Daniel1992
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ......................................................................................................
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .........................................................................
2. Definisi pertumbuhan, Perkembangan, Intelek dan Remaja ..................
Rumusan Masalah ...........................................................................................
B. PEMBAHASAN
PERTUMBUHAN FISIK DAN PERKEMBANGAN INTELEK
PESERTA DIDIK REMAJA
1. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Remaja ............................................
a. Pengertian Pertumbuhan Fisik ........................................................
b. Ciri-ciri umum Masa remaja ...........................................................
c. Proses Masa Remaja .......................................................................
2. Perkembangan Intelek Peserta Didik Remaja .....................................
a. Tahapan-tahapan perkembangan Intelek Remaja ........................
3. Perkembangan bahasa Peserta Didik Remaja .....................................
C. KESIMPULAN ........................................................................................
D. DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
Psikologi Perkembangan Remaja
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada
era globalisasi dan modernisasi yang sedang berjalan saat ini, banyak
terjadi perubahan salah satunya terhadap usia rentan yakni masa remaja.
Remaja merupakan masa peralihan dari kanak – kanak menuju dewasa,
banyak perubahan yang akan dialami seorang peserta didik pada masa ini
yang menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif.
Peranan keluarga dalam pembinaan generasi muda cukup dominan. Pembentukan perilaku positif
yang harus dimiliki oleh seorang warga negara yang baik, bermula dari
keluarga. Djamaludin Ancok (1995) yang dikutif dari buku Hendriati
Agustiani menyatakan bahwa pada saat ini pembinaan terhadap kaum remaja
belum menemukan format yang maksimal, maraknya tawuran, dan berbagai
kenakalan remaja lainnya dianggap sebagai akibat dari proses
keterasingan dari kehidupan yang wajar. Salah satu akibatnya remaja
dapat terasing dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Umumnya orang tua dalam mendampingi anak mereka yang tengah menginjak masa remaja, penuh dengan perasaan was-was.
Pertumbuhan
pada setiap individu manusia berlangsung terus menerus dan tidak dapat
diulang kembali. Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap
perbuatan-perbuatan yang kurang baik diakibatkan sikap mereka yang suka
mencoba-coba pada hal yang baru. Pada masa remaja terjadi
perubahan-perubahan fisik baik bersifat struktural maupun fungsinya,
yang berbeda antara remaja laki- laki dan remaja perempuan.
Gejala-gejala perubahan fisik remaja, mulai nampak ketika anak mulai
memasuki masa awal remaja sebagai bagian pertama dalam masa remaja
secara keseluruhan. Perubahan fisik pada remaja hampir selalu disertai
dengan perubahan-perubahan dalam sikap dan perilaku.
Manusia
memiliki perbedaan satu sama lain dalam berbagai aspek, antara lain
dalam bakat, minat, kepribadian, keadaan jasmani, keadaan sosial dan
juga inteligensinya. Perbedaan itu akan tampak jika diamati dalam proses
belajar mengajar di dalam kelas. Ada peserta didik yang cepat, ada yang
lambat dan ada pula yang sedang dalam penguasaan materi pelajaran.
Ada siswa yang tingkah lakunya baik dan ada pula siswa yang kurang baik.
Perbedaan individu dalam perkembangan intelek menunjuk kepada perbedaan dalam kemampuan dan kecepatan belajar. Perbedaan-perbedaan individual peserta didik akan tercermin pada sifat-sifat atau ciri-ciri mereka dalam kemampuan, keterampilan, sikap dan kebiasaan belajar, serta kualitas proses dan hasil belajar baik dari segi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.Perkembangan intelektual sebenarnya diperngaruhi oleh dua faktor utama, yaitu hereditas dan lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu pada kenyataannya tidak terpisah secara sendiri-sendiri.
Perbedaan individu dalam perkembangan intelek menunjuk kepada perbedaan dalam kemampuan dan kecepatan belajar. Perbedaan-perbedaan individual peserta didik akan tercermin pada sifat-sifat atau ciri-ciri mereka dalam kemampuan, keterampilan, sikap dan kebiasaan belajar, serta kualitas proses dan hasil belajar baik dari segi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.Perkembangan intelektual sebenarnya diperngaruhi oleh dua faktor utama, yaitu hereditas dan lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu pada kenyataannya tidak terpisah secara sendiri-sendiri.
Definisi pertumbuhan, Perkembangan, Intelek dan Remaja
a. Definisi Pertumbuhan (growth)
Pertumbuhan (growth)
merupakan sebuah istilah yang lazim digunakan dalam biologi, sehingga
pengertiannya lebih bersifat biologis. menurut A.E. Sinolungan (1997),
pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu dapat dihitung
atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh.
Istilah
“Pertumbuhan” cenderung menunjuk pada kemajuan fisika atau pertumbuhan
tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun
menuju keruntuhannya.
Pertumbuhan
manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih
panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia
dewasa. Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam
besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu
yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan
keseimbangan metabolisme dalam tubuh.
b. Definisi perkembangan (Development)
Mengutif
dari pendapat Reni Akbar Hawadi (2001), perkembangan secara luas
menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki
individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang
baru, dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali
saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Jadi, perkembangan itu tidak berhenti pada satu titik namun belajar sepanjang hayat.
c. Definisi Intelek
Istilah intelek berasal dari bahasa Inggris intellect
yang menurut Chaplin (1981) diartikan sebagai : (1) Proses kognitif,
proses berpikir, daya menghubungkan, menilai,mempertimbangkan; (2)
Kemampuan mental atau intelegensi. Menurut Mahfudin Shalahudin (1989)
dinyatakan bahwa “intelek” adalah akal budi atau intelegensi yang
berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berfikir.
Selanjutnya,
dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat
menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami
masalahnya lebih cepat dan cermat,serta mampu bertindak cepat.
Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin intelligere yang berarti menghubungan atau menyatukan sama lain (Bimo Waalgito, 1981).
Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin intelligere yang berarti menghubungan atau menyatukan sama lain (Bimo Waalgito, 1981).
Menurut
William Stern, salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi,
menyatakan inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat
alat-alat bantu dan pikiran guna dan pikiran guna menyesuaikan diri
terhadap tuntutan-tuntutan baru (Kartini Kartono, 1984).
Sedangkan
Leis Hedison Terman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesanggupan
untuk belajar secara abstrak (Patty F, 1981). Di sini Terman membedakan
antara concrete ability yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkret, dengan kemampuan yang bersifat abstrak abstract ability. Orang dikatakan inteligen, menurut Terman, jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.
Menurut
Wechler merumuskaan intelektual/intelligensi sebagai "keseluruhan
ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta
kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Intelegensi/intelektual bukanlah suatu yang bersifat kebendaan,
melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu
yang berkaitan dengan kemampuan intelektual”.
Berdasarkan beberapa pendapat para pakar, maka dapat disarikan secara
sederhana bahwa pengertian intelek tidak berbeda dengan pengertian
inteligensi yang memiliki arti kemampuan untuk melakukan abstraksi,
serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan
diri terhadap situasi baru.
d. Definisi Remaja
Istilah remaja dikenal dengan “adolescence” yang berasal dari kata dalam bahasa latin “adolescere” (kata bendanya adolescentia = remaja),yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.
Dalam
berbagai buku psikologi terdapat perbedaan pendapat tentang remaja,
namun pada intinya mempunyai pengertian yang hampir sama. Istilah yang
digunakan untuk menyebutkan masa peralihan masa kanak-kanak dengan
dewasa, ada yang menggunakan istilah puberty (Inggris), puberteit
(Belanda), pubertasi (Latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi
sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian dan keperempuanan. Ada pula yang
menyebutkan istilah adulescento (Latin) yaitu masa muda. Istilah
pubercense yang berasal dari kat pubis yang dimaksud pubishair adalah
mulai tumbuhnya rambut disekitar kemaluan.
Istilah yang digunakan di Indonesia para ahli psikologi juga bermacam-macam pendapat tentang definisi remaja.
Istilah yang digunakan di Indonesia para ahli psikologi juga bermacam-macam pendapat tentang definisi remaja.
Disini
dapat diajukan batasan remaja adalah masa peralihan dari masa
kanak-kanak dengan dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi
untuk memasuki masa dewasa.
Menurut Sartilo (1991), tidak ada profile remaja di Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagi suku, adat dan tingkat sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan
batasan usia 11-24 tahun.
Menurut Sartilo (1991), tidak ada profile remaja di Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagi suku, adat dan tingkat sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum remaja di Indonesia dapat digunakan
batasan usia 11-24 tahun.
Rumusan Masalah
1. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Remaja
a. Pengertian Pertumbuhan Fisik
b. Ciri-ciri umum Masa remaja
c. Proses Masa Remaja
2. Perkembangan Intelek Peserta Didik Remaja
a. Tahapan-tahapan perkembangan Intelek Remaja
3. Perkembangan bahasa Peserta Didik Remaja
3. Perkembangan bahasa Peserta Didik Remaja
PEMBAHASAN
1. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Remaja
A. Pengertian Pertumbuhan Fisik Remaja
A. Pengertian Pertumbuhan Fisik Remaja
Pada saat remaja, berlangsung perkembangan
fisik. Perkembangan ini ditandai dengan bertambahnya tinggi dan berat
badan, munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Ciri-ciri
kelamin primer berkenaan dengan perkembangan alat-alat produksi, baik
pada pria maupun wanita. Pada awal masa remaja anak wanita mulai
mengalami menstruasi dan laki-laki mimpi basah, dan pengalaman ini
merupakan pertanda bahwa mereka telah memasuki masa kematangan seksual.
Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan kematangan fisik, mental,
sosial, dan emosi. Remaja memiliki energi yang besar, emosi yang
berkobar – kobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Sedangkan mengutif pendapat (Sarwono
1995), bahwa perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam
pertumbuhan masa remaja, yang berdampak pada perubahan-perubahan
psikologis.
Tak
dapat di sangkal dan memang itu adanya. Pertumbuhan fisik ini merupakan
awal dimana remaja mempunyai peran dan tanggung jawab terhadap dirinya
sendiri, memanfaatkan apa yang dimiliki sesuai perannya masing-masing,
remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap
pantas atau sesuai dengan usianya . Saat inilah masa remaja membutuhkan
bimbingan dari orang-orang terdekat supaya tidak terjerumus kepada
hal-hal yang tidak diharapkan.
Untuk lebih mengenal sosok remaja dilihat dari segi fisik akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan masa remaja diantaranya :
B. Ciri-ciri Umum Masa Remaja
Adanya perubahan baikm di dalam maupun di luar dirinya
membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial
dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja
memperluas jaringan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti
lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lain.
Secara umum masa remaja dibagi menjadi 3 (tiga ) bagian yaitu :
1. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Pada
masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan
berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak
tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan
terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat
dengan teman sebaya.
2. Masa remaja pertengahan ( 15-18 tahun)
Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan mengarahkan diri sendiri (self-directed).
Pada
masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, membuat
keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional yang
ingin dicapai. Selain ini penerimaan dari lawan jenis menjadi penting
bagi individu.
3. Masa remaja akhir (19-22 tahun)
Masa
ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang
dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan
vokalisional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri tahap ini.
C. Proses Masa Remaja
Perubahan yang fundamental
remaja bersifat universal namun akibatnya pada individu sangat
bervariasi. Sehingga dapat dikatakan merupakan hal yangtidak mungkin
untuk menggeneralisasikan tabiat remaja tanpa mempertimbangkan
lingkungan sekitar tempat mereka tumbuh.
Masa
remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan
manusia yang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber
dari kedudukan masa remaja sebagai periode transisi antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa. Proses masa remaja dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Perubahan fisik
Ini
terjadi pada awal masa remaja atau masa pubertas, yaitu sekitar umur
11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria (Hurlock, 1973 ;
20-21).
2. Perubahan emosionalitas
Terjadinya
perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja salah satunya terjadi
sebagai akibat perubahan fisik dan hormonal. Ini semua menuntut
kemampuan pengendalian dan pengaturan baru atas prilakunya.
3. Perubahan kognitif
Perubahan
kognitif yaitu perubahan dalam kemampuan berfikir.dalam tahapan ini
bermula pada umur 11 atau 12 tahun, kemampuan-kemampuan berpikir yang
baru ini memungkinkan individu untuk berpikir secara abstrak dan
hipotesis, yang pada gilirannya kemudian memberikan peluang bagi
individu untuk mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal.
4. Implikasi psikososial
Semua
perubahan yang terjadi dalam kurun waktu yang singkat membawa akibat
bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Menurut
Erikson (1968), seorang remaja bukan sekedar mempertanyakan siapa
dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks apa atau dalam kelompok apa
dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan.
2. Perkembangan Intelek Peserta Didik Remaja
Perkembangan
intelektual remaja ditandai dengan kemampuan berpikir jauh melewati
kehidupannya baik dalam dimensi ruang dan waktu, berpikir abstrak yaitu
mampu berpikir tentang ide – ide. Berpikir formal pada remaja ditandai
dengan 3 hal penting yaitu (1) Anak mulai mampu melihat kemungkinan – kemungkinan (2) telah mampu berfikir ilmiah (3) mampu memadukan ide – ide secara logis.
a. Tahapan-tahapan Perkembangan Intelek Remaja
Jean Piaget, seorang ahli psikologi kognitif, membagi perkembangan intelek/ kognitif menjadi empat tahap;
1. Tahap sensori-motoris (0-2 tahun).
Pada
tahap ini segala perbuatan merupakan perwujudan dari proses pematangan
aspek motorik. Melalui pematangan motoriknya, anak mengembangkan
kemampuan mempersepsi, sentuhan-sentuhan, gerakan-gerakan dan belajar
mengkoordinasikan tindakannya.
2. Tahap praoperasional (2-7 tahun).
Tahap
ini disebut juga tahap intuisi sebab perkembangan kognitifnya
memperlihatkan kecenderungan yang ditandai oleh suasana intuitif, dalam
arti semua perbuatan rasionalnya tidak didukung oleh pemikiran tapi oleh
unsure perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari
orang-orang bermakna, dan lingkungan sekitarnya.
3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun).
Pada
tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan
sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Anak sudah dapat mengamati,
menimbang, mengevaluasi, dan menjelaskan pikiran-pikiran orang lain
dalam cara-cara yang kurang egosentris dan lebih objektif, sudah mulai
memahami hubungan fungsional karena mereka sudah menguji coba suatu
permasalahan, tetapi masih harus dengan bantuan benda konkret dan belum
mampu melakukan abstraksi.
4. Tahap operasional formal (11 tahun ke atas).
Pada
tahap ini sudah mampu melakukan abstraksi, memaknai arti kiasa dan
simbolik, dan memecahkan persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis
Remaja, seharusnya sudah berada pada tahap operasional formal dan sudah
mampu berpikir abstrak, logis, rasional serta mampu memecahkan
persoalan-persoalan yang bersifat hipotesis. Oleh karena itu, setiap
keputusan perlakuan terhadap remaja sebaiknya dilandasi oleh dasar
pemikiran yang masuk akal sehingga dapat diterima oleh mereka.
b b. Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek remaja
Mengenai
faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek individu terjadi
perbedaan pendapat diantara para penganut psikologi. Kelompok
psikometrika radikal berpendapat bahwa perkembangan intelektual individu
sekitar 90% ditentukan oleh faktor hereditas dan pengaruh lingkungan,
termasuk didalamnya pendidikan, hanya memberikan kontribusi sekitar 10%
saja. Kelompok ini memberikan bukti bahwa individu yang memiliki
hereditas intelektual unggul, pengembangannya sangat mudah meskipun
dengan intervensi lingkungan yang tidak maksimal. Adapun individu yang
memiliki hereditas intelektual rendah seringkali intervensi lingkungan
sulit dilakukan meskipun sudah secara maksimal.
Sebaliknya,
kelompok penganut pedagogis radikal amat yakin bahwa intervensi
lingkungan, termasuk pendidikan, justru memiliki andil sekitar 80-85%,
sedangkan hereditas hanya memberikan kontribusi 15-20% terhadap
perkembangan intelektual individu. Syaratnya adalah memberikan
kesempatan rentang waktu yang cukup bagi individu untuk mengembangkan
intelektualnya secara maksimal.
Tanpa
mempertentangkan kedua kelompok radikal itu, perkembangan intelektual
sebenarnya diperngaruhi oleh dua faktor utama, yaitu hereditas dan
lingkungan. Pengaruh kedua faktor itu pada kenyataannya tidak terpisah
secara sendiri-sendiri melainkan seringkali merupakan resultan dari
interaksi keduanya. Pengaruh faktor hereditas dan lingkungan terhadap
perkembangan intelektual itu dapat dijelaskan berikut ini.
1. Faktor Hereditas
Semenjak
dalam kandungan, anak telah memiliki sifat-sifat yang menentukan daya
kerja intelektualnya. Secara potensial anak telah membawa kemungkinan
apakah akan menjadi kemampuan berfikir setara normal, di atas normal
atau di bawah normal. Namun, potensi ini tidak akan berkembang atau
terwujud secara optimal apabila lingkungan tidak memberi kesempatan
untuk berkembang. Oleh karena itu, peranan lingkungan sangat menentukan
perkembangan intelektual anak.
2. Faktor Lingkungan
Ada dua unsur lingkungan yang sangat penting peranannya dalam memengaruhi perkembangan intelek anak, yaitu keluarga dan sekolah.
a. Keluarga
a. Keluarga
Intervensi
yang paling penting dilakukan oleh keluarga atau orang tua adalah
memberikan pengalaman kepada anak dalam berbagai bidang kehidupan
sehingga anak memiliki informasi yang banyak yang merupakan alat bagi
anak untuk berpikir. Cara-cara yang digunakan, misalnya memberi
kesempatan kepada anak untuk merealisasikan ide-idenya, menghargai
ide-ide tersebut, memuaskan dorongan keingintahuan anak dengan jalan
seperti menyediakan bacaan, alat-alat keterampilan, dan alat-alat yang
dapat mengembangkan daya kreativitas anak. Memberi kesempatan atau
pengalaman tersebut akan menuntut perhatian.
b. Sekolah
Sekolah
adalah lembaga formal yang diberi tanggungjawab untuk meningkatkan
perkembangan anak tersebut perkembangan berpikir anak. Dalam hal ini,
guru hendaknya menyadari bahwa perkembangan intelektual anak terletak di
tangannya.
3. Perkembangan bahasa Peserta Didik Remaja
Sesuai
dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh
seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. bahasa
merupakan alat bergaul. Oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi
efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang
lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak
itu pula bahasa diperlukan.
Perkembangan
bahasa terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek
sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bahasa
remaja adalah bahasa yang telah berkembang ia telah banyak belajar dari
lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi
lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat
dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah.
Perkembangan
bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di
mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang
dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus
dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat
luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah. Sebagaimana
diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai
dengan kaidah-kaidah yang benar.
Proses
pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan
semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem
budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam
masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak
(remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang
di dalam kelompok sebaya.
Pengaruh
lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam
perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu
dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan
kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari
masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak
menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah
yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status
sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan
umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada
hakikatnya pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam hal ini peserta
didik, tidak dapat dicegah karena akan terus berjalan secara alami.
Yang terpenting adalah bagaimana remaja tersebut dapat mengisi tahap
demi tahap pertumbuhan dan perkembangan mereka, baik perkembangan fisik,
intelektual, emosi, bahasa, bakat khusus, moral dan sikap, dengan hal
positif dan bermanfaat.
Dibutuhkan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan, seperti
orang tua pada lingkungan rumah, Guru pada lingkungan sekolah dan
lingkungan yang lebih luas lagi yakni lingkungan masyarakat. Guru
sebagai pendidik harus
mengarahkan, membimbing, mengontrol, dan memberikan saran dalam tiap
tahap dan gejala perkembangan remaja, serta dapat menjadi teladan yang
baik dan menjadi sumber inspirasi peserta didik remaja.
Masa
pertumbuhan fisik dan perkembangan intelek peserta didik remaja
merupakan masa dan tahapan yang menentukan kehidupan remaja dikemudian
hari. Oleh karenanya diperlukan sinergitas dari berbagai pihak terutama,
orang tua, guru, lingkungan masyarakat dan negara sebagai pemegang
kebijakan.
DAFTAR PUSTAKA
Hendriati Agustian, Psikologi Perkembangan, pendekatan ekologi
kaitannya dengan konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja,
2006, hal ; 1
http://yusnan3.blogspot.com/ kamis, 03-11-2011
A.E.Sinolungan, psikologi
Perkembangan Peserta Didik, Jakarta Gunung Agung, 1997
M. Ali,. Tumbuh Kemabang
dalam Perkembangan. Bandung: PT. Cemerlang. 1988 hal ;78
Reni Akbar Hawari, Psikologi Perkembangan anak;mengenal sifat,bakat dan
kemampuan anak,Jakarta Grasindo, 2001
http://yusnan3.blogspot.com/ kamis, 03-11-2011
Desmita ,Psikologi
Perkembangan. Bandung , Remaja Rosdakarya, 2009 ; 189
http://defauzan.wordpress.com/2009/04/15/makalah-perkembangan-fisik-dan-intelektual-remaja/kamis. 3-11-2011
http://ariramayantirahayu.wordpress.com/2010/05/18/upaya-guru-dalam-mengatasi- perkembangaremaja/kamis.03-11-2011
Desmita , Psikologi
Perkembangan, 2009 ; 190
Hendriati Agustian, Psikologi Perkembangan, pendekatan ekologi kaitannya
dengan konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja, 2006, hal
; 28-29
ibid, hal ; 30-33s
http://yusnan3.blogspot.com/ kamis, 03112011